Tersadar dari Gerak Jatuh Bebas

Sore itu suasana ruangan tata usaha (TU) begitu Sepi. Sekat-sekat tampak membagi ruangan tersebut menjadi beberapa bagian. Kursi dan meja yang tersusun rapi serta Beberapa Tumpukan beberapa berkas tampak tersusun rapi di atas meja.  Ditengah-tengah ruangan terdapat dua buah meja panjang. Salah satu bagian dinding menggantung Jam dan papan tulis yang berisi data pendidik dan tenaga pendidik. Ruangan tersebut begitu lengan. Selain karena hari ini sekolah pulang lebih awal, juga karena beberapa staff pergi ke dinas provinsi. Jendela-jendela diruangan tampak tertutup, cahaya yang datang melewati kaca tampak tampak terbias kemudian memantul keseluruh ruangan hingga energinya berkurang dan terjebak dalam ruangan.
Meskipun agak tertutup ruangan tersebut tidak begitu pengap. Udara panas berputar melewati beberapa celah diatas. Dibantu rotasi kipas yang berasal dari perubahan energi listrik menjadi energi gerak, proses konveksi panas berjalan secara alami. Sesekali terdengar bunyi tikus berlarian di atas loteng. Tikus tikus tersebut seperti hilir mudik menghasilkan efek doppler. Kemanakah kucing? Mungkin ia masih terjebak dalam kotak kuantum schrodinger entah hidup atau mati peluangnya sama.

Jam tepat menunjukkkan pukul 12.31. Seorang pria muda tampak masuk kedalam ruangan membawa kumpulan kunci-kunci. Entah berapa banyak yang pasti dia hapal masing-masing kunci. Pria tersebut memilliki tinggi badan 162 cm dengan ketelitian +/- 2 cm. Rambutnya tampak hitam dengan emisitas yang hampir mendekati 1 dibeberapa bagian tampak putih seperti bintik bintik matahari. Janggutnya tampak hitam kecoklatcoklatan. Wajahnya tampak kecoklatan yang tampak dari panjang gelombang cahaya yang terpantul dari wajahnya, ah entahlah itu hanya beberapa konsepsi yang keliru dari masyarakat. Bukannya tanpa dasar, jika benar wajahnya hitam maka dapat dipastikan wajahnya tidak akan memancarkan gelombang. Tidak perlu memiliki wajah hitam untuk bisa memancarkan radiasi panas. Senyum dari bibir merah yang ia punya sudah cukup untuk menghangatkan sekelilingngya walau terkadang gelak tawa juga sering terdengar dari mulutnya. Badannya memiliki massa yang berkisar antara 42 kg-45 kg. Beberapa teman-temannyamenyebut besaran tersebut sebaga berat bukan massa. Kalau tentang ini kita tidak bisa menyebutnya keliru atau dalam bahasa lebih keren namanya miskonsepsi tapi salah konsep. Oh iya hampir lupa namanya ahmad. Serang guru honorer fisika. Cita-cita ia waktu kecil menjadi seorang pilot. Namun, takdir berkata lain. Di masa depan ia berharap takdir membawanya mengunjungi beberapa kota di masing-masing benua dan bertemu dengan yang sefrekuensi dalam do’a . Kita aminkan Saja.

Saat ahmad berada dalam ruangan TU. Hujan mulai turun, menggema di atap-atap ruangan. Meskipun atap sekolah sudah tua, tapi masih bisa menahan kuatnya tekanan yang dihasilkan dari rintik-rintik hujan. Hujan tersebut membuyarkan rencana Ahmad untuk pulang. "Namanya juga hujan, aku tidak tau kapan dan dimana tepatnya akan jatuh. Aku hanya bisa berdo’a ini hujan rahmat. Ah, begitu juga dengan hati ini” Gumam ahmad dalam hati.  Sembari menunggu reda. Ia berusaha berniat untuk tidur sementara waktu. Sebuah meja panjang ditengah ruangan dengan tinggi sekitar 1,1 m +/- 0,05 m. Tampak begitu nyaman untuk merebahkan badan. Meja tersebut tampak memiliki kesetimbangan yang bagus, torsinya bernilai nol.

                                                                 ...............................

Tidak butuh waktu lama untuk ahmad terlelap. Kira-kira beberapa sekon saja. Ia terlelap  kedalam tidur, beberapa orang menyebut ini kondisi dimana otak memancarkan gelombang gamma.

                                                                 ...............................

Hujan mulai mereda, ruanganpun bertambah sunyi. Frekuensi dari gelombang suara tikus juga tidak terdengar. Meskipun demikian, percayalah! Ruangan ini masih kalah sunyi dengan angkasa luar. Diangkasa luar sana gelombang suara tidak dapat merambat. Hanya gelombang elektromagnetik yang dapat melaluinya. Mengapa? Yah dia angkasa luar tidak ada medium perambatan, yang ada hanya berkas berkas cahaya dari bintang bintang atau beberapa berkas supernova yang entah berasal dari mana. Kita Disana kita hanya bisa mendengar nyanyian semesta melalui gelombang gravitasi. Gelombang gravitasi? Riak-riak semesta yang diprediksi oleh Einstein satu abad yang lalu dan baru terbukti di abad ini. Begitulah semesta penuh misteri yang menunggu untuk dipecahkan. Semua sudah ditetapkan sang empunya aturan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.
Gubrakkk.... Beberapa Desibel suara di hasilkan dari sumber suara yang boleh jadi diatas ambang kebisingan. Seketika itu pula

Ahmad tiba-tiba terbangun dari tidur lelapnya. Entah bagaimana semesta menjelaskan. Dalam secercah waktu, dimensi ruang dan waktu disekelingnya berhenti sesaat. Tubuhnya sekarang tergelak takberdaya di lantai semen yang agak berdebu dan beberapa butiran pasir yang tidak lebih banyak dari bintang di langit. Ia merasakan perih di bagian wajahnya. Kepala dan leher ahmad juga terasa perih. Kelajuan detak jantungnya mengalami akselerasi, begitu pula dengan napasnya. Butuh beberapa saat hingga ia mampu mengumpulkan energi dan mengubahnya menjadi gaya dorong mengangkat tubuh. Apa yang terjadi? Ternyata ia terjatuh bebas dengan percepatan kurang lebih 9,8 m/s^2. Ia coba mengira-ngira berapa newton gaya reaksi lantai yang menghantam badannya. Namun, ia masih linglung. “Ah biarlah, buat apa coba’ menghitung. Inikan hanya fenomena alam biasa”. Ia hanya bisa bersyukur “Alhamdulillah” hanya wajahnya yang memar. Boleh jadi ia selamat dari patah leher atau patah-patah yang lain.
                                                                      ..............................


Coba hitung besaran besaran yang terjadi sesaat sebelum dan sesudah ahmad terjatuh?
*Jika ada beberapa istilah yang salah mohon dikomentari

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.